Selamat Datang di Suku Baduy
Selamat Datang di Suku Baduy

Siapa yang tidak kenal dengan suku Baduy? Pastinya hampir semua tahu dengan suku yang satu ini.

Suku Baduy memang sudah tak asing lagi kita dengar. Banyak wisatawan lokal dan asing berbondong-bondong untuk melihat dan merasakan seperti apa rasanya tinggal dengan kehidupan  orang suku Baduy. Di kota besar seperti Jakarta, orang suku Baduy biasanya berjalan tanpa alas kaki dan itu mereka lakukan juga saat tinggal di desa mereka sendiri. Mereka biasa menjajakan madu yang mereka bawa dengan bajunya yang khas dan tanpa alas kaki.

Cara ke desa Suku Baduy dan Kisaran Biaya

Suku Baduy ini terletak di Banten tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Untuk pergi kesana kalian bisa menggunakan bus ataupun kereta dari Jakarta. Saya dengan beberapa rombongan memutuskan untuk naik kereta dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Rangkasbitung. Ongkos dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Rangkasbitung tidak terlalu mahal dengan  Rp6.000,- sudah bisa sampai ke stasiun tujuan. Perjalanan yang ditempuh dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Rangkasbitung kurang lebih berkisar 2 jam.

Setiba di stasiun Rangkasbitung kalian bisa berjalan menuju terminal Aweh yang tidak jauh dari stasiun, bisa di tempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 10 menit. Banyak jasa angkot yang menawarkan menuju terminal Aweh, tapi saya sarankan lebih baik berjalan kaki saja di samping dekat juga bisa hemat biaya untuk keperluan yang lainnya. Sesampai di terminal kalian, bisa melanjutkan dengan elf menuju Cijahe. Kalau bukan rombongan kalian harus menunggu elf tersebut penuh, tetapi karena saya berangkat rombongan backpacker Jakarta begitu tiba di elf supir elfnya langsung tancap gas menuju Cijahe.

Perjalanan dari terminal Aweh menuju Cijahe memakan waktu kurang lebih sekitar 2 jam. Persiapkan fisik kalian karena akses jalan menuju Cijahe tidak begitu mulus jalanannya. Jadi selama kurang lebih 2 jam perut kita di goyang dan di buat sedikit pusing selama perjalanan. Bagi yang mabuk perjalanan diusahakan bawa obat pribadi untuk menahan mabuk selama di perjalanan. Besaran tarif naik elf per orang harus mengeluarkan kurang lebih sebesar Rp 25.000,-. Perjalanan selama di elf akan menjadi perjalanan yang menyenangkan dan mungkin bagi kalian yang sudah merasakan menjadi hal yang terlupakan.

Sesampainya di Cijahe kita akan di sambut oleh potter-potter yang siap menjadi pemandu kita selama di Baduy Dalam. Kebetulan rombongan saya menyewa dua potter dari masyarakat Baduy Luar  yang akan membantu kita selama perjalanan menuju Desa Baduy Dalam. Mereka bernama Marno dan Samin. Mereka sangat ramah dan sangat membantu selama perjalanan. Oiaaa…. mereka berdua termasuk orang baduy luar yang sudah agak modern loh, mereka tidak sekolot suku Baduy Dalam karena sudah memiliki alat komunikasi. Bahkan salah satu di antara mereka ada yang bersekolah juga dan masih mempunyai semangat menimba ilmu pendidikan hingga bisa ke jenjang universitas. Salut dan sekaligus bangga betapa perjuangan untuk mengenyam pendidikan pun tidak mudah dilaluinya.

Aturan adat dari Suku Baduy

Selama perjalanan di Baduy Luar kita masih diperbolehkan untuk menggunakan alat komunikasi, dan mengambil gambar di sekitaran daerah Baduy Luar. Setelah kita menemui jembatan bambu, itu pertanda kita sudah memasuki kawasan Baduy Dalam. Semua alat komunikasi yang berbau teknologi harus dimatikan demi menghormati aturan yang ada di Baduy Dalam.

Ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan selama di Baduy Dalam yaitu tidak diperbolehkan adanya alat komunikasi ( termasuk alat yang menggunakan listrik), tidak diperbolehkan menggunakan bahan kimia saat mandi ( sabun, sampo, odol, dsb), dan bagi wanita dilarang untuk mempercantik diri (makeup). Lebih baik kita mengikuti aturan yang sudah diterapkan orang Baduy Dalam karena konon apabila melanggar hal tersebut kita harus berada atau tinggal di sana selama 40 hari, ini saya belum tahu pasti benar atau tidaknya diterapkan sanksi seperti itu.

Gambaran Tinggal di desa Baduy Dalam

Setibanya di Baduy Dalam kita menginap di pemukiman penduduk Baduy Dalam. Selama di sana kita disambut ramah dengan pemilik rumah. Berbagai aktivitas bisa dilakukan disini,  tempat dimana kita berkumpul bersama sekaligus mengobrol dengan satu sama lain bahkan dengan penduduk sekitar Baduy Dalam.

Hidup tanpa gadget membuat kita bisa mengakrabkan diri satu sama lain, dimana era sekarang ini sudah sangat susah ditemukan karena sudah disibukkan dengan gadget mereka masing-masing. Sangat butuh memang sesekali untuk “quality time” seperti ini. Bahkan penerangan cahaya mereka hanya mengandalkan dari cahaya luar dan dikala malam mengandalkan api yang di beri minyak sayur untuk penerangan rumah mereka.

Kita bisa menikmati sungai yang bersih dan bening, segar untuk sekedar mandi ataupun berendam. Orang sana mengganti sabun mereka dengan bebatuan sebagai alat pembersihnya dengan cara digosok-gosokan ke bagian tubuh yang ingin dibersihkan. Jangan berharap di tempat seperti ini ada kamar mandi seperti layaknya perumahan yang ada.

Jikalau kalian ingin mandi, ataupun sekedar ingin buang air kecil dan besar, kalian bisa melakukan di sungai ini ataupun mencari semak-semak yang bisa di singgahi untuk buang air kecil dan besar. Orang sana biasanya mengambil air menggunakan bambu yang biasa mereka sebut “bambu timba” yang setiap rumah memiliki bambu ini. Gelasnya pun terbuat dari bambu yang mereka letakkan di tempat untuk meletakkan gelas yang terbuat bambu juga.

Rumah Suku Baduy

Perumahan di suku Baduy Dalam sama seperti Baduy Luar layaknya rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu. Rumah adat mereka memiliki ciri khas yang unik yang dinamakan “Sulah Nyanda”. Untuk dasar pondasi rumah, mereka menggunakan batu kali atau umpak. Atap rumah terbuat dari ijuk dari kelapa yang dikeringkan.

Ruangan mereka dibagi menjadi 3 bagian yaitu sosoro, tepas, dan ipah. Tiap ruangan memiliki lubang-lubang pada bagian lantainya dengan tujuan agar sirkulasi udara bisa masuk kedalam ruangan sehingga ruangan tidak menjadi panas. Rumah-rumah disini pun tidak sama tingginya satu sama lain karena mereka membangun rumah mengikuti kontur tanah yang ada dan tidak ingin merusak alam sekitar.

Perbedaan Pakaian Masyarakat Baduy Dalam dan Luar

Penduduk Baduy Dalam memakai pakaian berwarna putih dan penduduk Baduy Luar memakai pakaian berwarna hitam. Inilah yang ciri khas yang sangat tampak dan bisa kita bedakan dengan jelas mana penduduk desa Baduy Dalam dan desa Baduy Luar.

Setiap penduduk laki-laki dari anak-anak hingga dewasa, mereka membawa semacam “golok” di bagian pinggang sebelah kanan. Penduduk perempuannya memakai pakaian putih lengan panjang dengan kain tenun untuk bawahannya. Anak-anak baduy dalam biasa menggunakan pisau tersebut untuk membuat mainan yang biasa kita sebut peletokan.

Bahasa, Mata Pencaharian, dan Makanan masyarakat Suku Baduy Dalam

Desa Baduy Dalam terdiri dari 3 desa yaitu Cibeo, Cikeurtawarna, dan Cikeusik yang letaknya ditengah-tengah dikelilingi oleh desa Baduy Luar. Desa Baduy dalam belum memperbolehkan warga asing (WNA) untuk mengunjungi desa mereka. Mereka masi memegang adat istiadat yang kuat yang tidak bisa dipengaruhi dari pihak luar.

Bahasa yang mereka pakai yaitu Bahasa Sunda, bisa dikatakan bahasa Sunda kasar. Kepercayaan penduduk Baduy Luar dan Dalam yaitu “Sunda Wiwitan”. Satu hal yang menakjubkan dari penduduk di Baduy Dalam dan Luar yaitu mereka memiliki kulit yang bersih, putih, dan beberapa dari mereka memiliki paras yang cantik juga tampan bagai “Shinta dan Rama”.

Kebanyakan dari penduduk Baduy rata-rata menjadi pengrajin kerajinan tangan, mulai dari membuat kain tenun, gantungan kunci, gelang, tas, dan sebagainya. Ada juga yang berjualan madu khas Baduy dan yang khasnya ialah madu hitam yang sangat pahit rasanya konon khasiatnya bagus untuk meningkatkan stamina dan vitalitas.

Makanan khas mereka yang biasa mereka makan yaitu ikan asin seukuran kurang lebih kelingking manusia.  Mereka pun punya adat upacara lamaran yang unik, biasa para wanita berkumpul di rumah calon mempelai untuk mengambil sirih beberapa lembar entah untuk dijadikan seserahan atau untuk dibawa kerumah mereka masing-masing.

Saya dan rombongan backpacker Jakarta pulang keesokan harinya melalui jalur menuju ciboleger. Melewati desa gazebo Marengo dan disini kita bisa main dikali cicakal. Karena waktu tidak sempat untuk mandi dikali kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan hanya sempat berfoto-foto di area kali tersebut.

Perjalanan menuju Ciboleger lumayan lama, panjang dan banyak menguras tenaga kurang lebih 4-5 jam tiba di sana karena kami singgah sebentar di salah satu rumah potter kami ini untuk beristirahat sekaligus makan dan mandi. Perjalanan berkeliling desa Baduy membuat kesan yang amat mendalam bagi saya meskipun sempat ada drama “misteri hilangnya sandal saya” yang dari sekian banyak sandal hanya sandal saya hilang dan tidak tahu pelakunya siapa sampai sekarang. Tak apalah mungkin sandal tersebut lebih dibutuhkan oleh orang lain atau penduduk sana. 

Banyak hal yang bisa dipelajari dari perjalanan selama di Baduy Dalam ini, dengan kesederhanaan mereka dan adat yang masih mereka junjung membuat Indonesia menjadi kaya akan suku dan budaya. Belajar dari mereka juga bahwa keindahan alam itu jangan dirusak tetapi harus kita jaga karena alam merupakan sumber dari kehidupan dan tempat tinggal untuk kita…..